Selasa, 19 Juni 2012
Jumat, 03 Februari 2012
It's Anna's Live
“Ini bukan sebuah kisah Cinderella. Bukan juga Romeo and Juliet yang telah menemukan cinta sejatinya. Namun ini kisahku. Bukan salah dalam melangkah ataupun terlalu gegabah dalam mengambil keputusan” Anna, seorang gadis sedang melamuni perbuatannya dulu, yang kini telah berada di dalam tahanan sel.
Dia adalah seorang remaja yang memiliki paras cantik jelita, berkulit putih, dan mempunyai postur tubuh yang ideal. Namun di balik kesempurnaannya itu, dia selalu saja meminta-minta kepada kedua orang tuanya hal-hal yang sebenarnya mereka tidak mampu. Dia adalah anak semata wayang mereka sehingga mereka sangat sayang kepadanya. Mereka sekuat tenaga memberikan apapun yang Anna minta.
“Ibu! Ambilkan sarapan untukku” perintah Anna yang duduk di kelas dua belas SMA itu kepada ibunya. “Iya nak, sebentar ibu ambilkan” kata ibunya. “Kali ini, sarapan dengan apa bu?” tanya Anna sambil sibuk memakai sepatunya. “Kali ini kamu sarapan dengan pisang goreng, nak” jawab perempuan tua itu sambil membawa sepiring pisang goreng menuju ke tempat anaknya menunggu. “Apa?! Pisang goreng? Lagi-lagi pisang goreng! Aku nggak mau. Sekali-kali masak makanan kota dong bu! Aku bosan makan makanan kampungan ini! Huh, menyebalkan” Anna berkomentar. “Tapi, kita hanya bisa membeli ini untukmu, nak?” ibu mencoba memberi pengertian. “Aku tidak peduli!” tukas Anna. “Ayolah nak, makan saja sedikit untuk mengganjal perutmu. Kalau tidak, kamu bisa sakit nak!” bujuk ibu. “Aku tidak mau!” bentak Anna sambil menyambar sepiring pisang goreng yang ada di tangan ibunya. Sehingga pisang goreng itu berceceran di lantai yang sudah retak itu. “Astaghfirullah” ibu tersentak. Lalu, ia dengan kesabaran hati memungut pisang goreng itu satu per satu sambil sesekali mengelus dadanya. “Nak, kamu tidak boleh seperti ini! Inilah rezeki yang diridhoi oleh Allah.” Ibu mencoba menasehati. “Bodo amat” tukas Anna.
“Aduh! Sudah siang pula! Nanti aku bisa terlambat lagi! Coba kalau ibu membelikanku mobil, pasti aku tidak akan terlambat. Lagian, semua teman-temanku orang kaya. Aku malu ibu! Jika setiap hari harus naik angkutan umum. Bagaimana kalau sudah begini?” keluhnya. “Anna, kalau ibu sudah punya uang, pasti ibu akan membelikan mobil untukmu, ya” kata ibu. “Ah, ibu selalu saja berkata seperti itu. Tapi kenyataannya, nggak pernah dibelikan.” “Itu karena ibu belum mempunyai uang, nak. Bukankah kamu tahu sendiri, bahwa kita untuk makan saja sudah susah” “Lalu, kapan ibu mempunyai uang untuk membelikan semua yang aku butuhkan?” “Bersabarlah sedikit, nak! Ibu selalu mencari uang untuk keperluanmu.” Kata ibu sambil mengelus-elus dadanya. Di dalam hatinya, dia ingin sekali membelikan semua yang anaknya minta. Namun, keberuntungan selalu saja tidak berpihak padanya. Walaupun dia terus banting tulang siang dan malam tanpa kenal lelah, dia tetap belum bisa memenuhi semua permintaan anak semata wayangnya itu. Apalagi ayah Anna telah menghilang saat Anna masih kecil. Jadi, semua kebutuhan keluarganya harus ia tanggung sendiri.
“Ibu, mana uang sakuku?” Ibu memberikan lembaran uang senilai sepuluh ribu rupiah untuknya. “Mengapa hanya sepuluh ribu? Kali ini aku mau naik taxi. Jadi apakah cukup untuk membayar taxi, membayar foto copy, dan pergi ke salon?” “Lalu, berapa yang kamu minta nak?” tanya ibunya. “Seratus ribu” katanya. “Banyak sekali! Ibu memang mempunyai uang seratus ribu. Itupun hanya satu-satunya. Tapi jika ibu memberikan semua untukmu, besok-besok kita akan makan apa?” “Terserah! itu urusan ibu. Ayolah ibu! Mengulur-ulur waktu saja.” Akhirnya, ibupun memberikan uangnya untuk Anna. Dalam angannya, asalkan anaknya bahagia dia juga ikut bahagia. Lagi pula, uang itu bisa dicari lagi nanti. Lalu, Anna melesat keluar rumah menuju ke SMA-nya yang termasuk sekolah elit dan favorit di Bandung.
Sesampainya di depan sekolah, ternyata bel sudah berbunyi semenit yang lalu. Dengan otomatis, gerbang sekolahpun telah tertutup rapat. “Ah, aku terlambat satu menit! Jam pertama adalah Bahasa Indonesia” katanya dalam hati. Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya. “Bukankah Bahasa Indonesia ulangan?” Anna bertanya kepada dirinya sendiri. “Iya! Aku harus cepat!” Anna langsung lari secepat kilat menuju ruang kelasnya lewat belakang sekolah.
Nafas Anna terengah-engah setelah sampai di kelasnya. “Huh, untung gurunya belum datang.” Kata Anna terbata-bata. “Hey, nanti jadi ulangan Bahasa Indonesia nggak?” tanya Anna pada Anis, sahabatnya setelah tiba di kelas. “Nggak jadi” jawab Anis singkat. “Kok nggak jadi? Minggu lalu sudah diumumkan kan?” tanya Anna kembali. “Tapi sudah diralat! Karena kelas lain belum siap, jadi ulangannya diundur minggu depan” dia menjelaskan. “Syukurlah kalau begitu” Anna lega.
Tiba-tiba, Anna menyikut Anis. Nampaknya Anis bingung. “Nis, Nis, Nis, Itu!” Anna melirik ke depan kelas. Anis mencoba mengikuti arah mata Anna. “Ups!” dia kaget karena sudah ada guru di depan kelas. Karena dia merupakan leader di kelasnya, langsung saja Anis mengomandani anak buahnya.
“Igh, aku malas mencatatnya. Aku paling benci pelajaran Bahasa Indonesia. Selalu saja mencatat. Tinggal difotocopy beres kan!” keluh Anna setelah pelajaran dimulai. “Memang! Tapi, apa boleh buat! lakukan saja Na, kita kan hampir ujian?” tanggap Anis. “Ah, tetap saja aku malas! Kalau kamu sudah mencatatnya, tolong tuliskan untukku ya!” perintah Anna santai. “Iya dech!” jawab Anis. “Dasar, kebiasaan” gerutunya. “Apa kamu bilang tadi?” Anna mendengar suara Anis samar-samar. “Ehm, tidak apa-apa” Anis mencoba menutupi. “Oh, kukira tadi kamu bilang sesuatu”.
Sepulang sekolah, “Ibu..... Ibu.....” dia berteriak-teriak memanggil-manggil orang tuanya sambil menggedor-gedor pintu rumah mungilnya. “Tunggu sebentar” ibu membuka pintu. “Kamu sudah pulang, nak?” tanya ibu ramah saat melihat anaknya telah kembali. “Jelas-jelas aku sudah berada di sini, berarti itu tandanya aku sudah pulang.” Bentak Anna. “Mengapa kamu tadi teriak-teriak sambil menggedor-gedor pintu, nak? Padahal, ibu tidak menguncinya” ibu kembali bertanya dengan suara lirih. “Nggak kok, aku hanya memastikan ibu ada di rumah apa nggak” jawab Anna.
“Apakah ibu sudah membelikanku mobil?” Anna menagih janji. “Maaf Na, ibu belum membelikanmu mobil” ibu agak takut melontarkan kata itu, karena dia takut anaknya itu kecewa dengan jawabannya. “Mengapa belum? Alasan apa lagi yang akan ibu katakan padaku?” sesuai dengan dugaan ibu, Anna kecewa. “Bersabarlah Na, tunggulah! Ibu akan pergi sebentar” ibu mencoba menyabarkan hati anaknya. “Ibu mau pergi ke mana?” Anna kaget ibunya berkata seperti itu. “Ibu hanya ingin membeli makanan untukmu, nak” jawab wanita itu ragu. Karena sebenarnya, ia ingin pergi mencari pinjaman uang untuk membelikan mobil untuk anaknya itu. Annapun percaya saja dengan perkataan ibu. Kemudian Anna masuk ke kamarnya.
Beberapa jam kemudian, Ibu pulang dengan wajah berseri-seri. Mendengar langkah kaki ibunya, Anna keluar dari kamarnya. “Bu, mana makanannya! Aku sudah lapar! Ibu kelamaan sih”. Mendengar hal itu, ibu bergegas menuju ke dapur untuk menyiapkan nasi bungkus Bu Enting yang baru saja ia beli. Sedangkan Anna mengikuti langkah ibunya. Setelah itu, Anna menyantap makanannya dengan lahap. Saat Anna sudah menyikat setengah piring, ibu membuka pembicaraan, “Na, apakah kamu ingin membeli mobil secepatnya?” “Ya iya lah, dari kemarin aku kan sudah bilang!” Anna langsung nge-gas. “Baiklah, setelah kamu selesai makan, ayo kita membeli mobil!”. Makanan yang ada di dalam mulut Anna hampir saja tersembur mendengar perkataan ibunya barusan. “Benarkah? Nggak seperti biasanya ibu membelikanku sesuatu dengan waktu yang secepat ini! Kalau begitu, ayo berangkat!” Anna sangat gembira. Merekapun pergi untuk membeli mobil. Anna tidak menghiraukan ibunya mendapatkan uang dari mana. Yang penting ia bisa mendapatkan apa yang ia minta.
Keesokan harinya, Anna berangkat sekolah dengan gagahnya menggunakan mobil barunya. Sesampainya di sekolah, Anna memamerkan mobil barunya kepada Anis. “Wow, mobilmu keren, Na! Warnanya biru lagi” Anis iri. “Aku jadi pingin ganti mobil lagi! Mobilku yang lama sudah jelek” lanjutnya. “Tinggal minta saja sama bokapmu!” kata Anna. “Walaupun dia mempunyai uang segudangpun, tidak semudah itu aku meminta padanya” Anis kecewa.
Melihat hal itu Anna merasa tidak enak. “Eh, rambutku sudah kusut nih!” Anna mencoba mengalihkan pembicaraan. “Ehm, bagaimana kalau nanti sepulang sekolah kita ke salon!” ajak Anna. “Menurutku, lebih baik kita membeli baju dulu saja” usul Anis. “Ok! terserah kamu dech” jawab Anna santai.
Seperti yang dibicarakan sebelumnya, Anna dan Anis pergi ke butik ternama untuk membeli baju. Di sana terdapat baju yang mahal-mahal. “Na, ke sini dech!” perintah Anis. Annapun langsung menuju arah datangnya suara Anis itu. “Lihat dech! Menurutmu, baju ini bagus nggak?” tanya Anis sambil memegang baju yang di maksud. “Menurutku baju itu bagus kok! Kayaknya model baru nih! Keren buat ABG kayak kita!” Anna mengungkapkan pendapatnya. “Oh ya! Padahal harganya murah hloh. Cuma satu juta dua ratus ribu rupiah” kata Anis. “Hah?! Mahal amat! Tapi, kata Anis baju harga satu juta dua ratus ribu rupiah itu murah?” Anna tidak percaya. Namun, dia hanya berkata di dalam hatinya saja. “Kalau begitu, aku beli ini dech!” Kata Anis. “Na, kamu nggak mau membelinya juga? Nanti kamu ketinggalan jaman dong!” Anis heran. “Aduh, kalau aku bilang bahwa aku nggak punya uang sebesar itu, mau ditaruh dimana mukaku ini? Tapi, kalau aku bilang aku juga mau membelinya, aku tidak punya uang sebesar itu! Bisa langsung ludes uang sakuku sebulan kalau harus membeli baju itu. Terus, gimana nih!?” pikir Anna.
“Aduh, dompetku ketinggalan di rumah! Sebenarnya sih aku juga ingin membelinya” Anna cepat-cepat mencari alasan. “Kalau kamu ingin membelinya, aku beliin dech!” Anis menawarkan. “Nggak usah dech! Di rumah, aku juga sudah punya baju yang modelnya kayak gitu, cuma beda sedikit” Anna gengsi. “Kamu belinya berapa dulu?” tanya Anis. “Sekitar, satu juta delapan ratus ribu rupiah” jawab Anna asal. Padahal, dia membelinya seharga seratus delapan puluh ribu rupiah. Itupun sudah paling mahal di toko tempatnya membeli. “Wah, murah sekarang ya!” Anis menyimpulkan. “Yo! Kita milih baju lagi! Tapi sayang, kamu cuma bisa milih doang. Soalnya kamu tidak membawa dompet!” Anis merasa tidak enak. “I i iya, nggak apa-apa” Anna tersenyum simpul.
Sepulang dari butik, mereka melaju dengan kencang menggunakan mobil mereka masing-masing menuju ke salon langganan mereka. Di sana, mereka membersihkan tubuh molek mereka dari ujung kaki sampai ujung kepala. Kalau bahasa gaulnya “Many cure pady cure, gituh”
“Na, nggak terasa kita hampir ujian ya?” Anis membuka pembicaraan dengan Anna yang duduk di sebelahnya. Mereka sedang dicreambath. “Iya, kita tinggal menghitung hari menghadapi ujian” tanggap Anna. “Kamu sudah siap menghadapi ujian?” Anis kembali bertanya. “Ah, asalkan ada uang pasti semuanya beres” Anna santai. “Maksudmu?” Anis bingung. “Ya, bukankah kamu anak orang kaya? Jika kamu ingin lulus tanpa harus belajar, pakailah uangmu” Anna menjelaskan “Ah, aku nggak ingin berbuat curang kayak gitu. Nggak puas rasanya” katanya. “Never mine, kamu boleh berkata seperti itu. Tapi, kalau kamu melakukannya, jangan pernah menyesal kamu pernah berkata seperti itu” tantang Anna. “Tenanglah, aku nggak akan menyesal” Anis menerima tantangan Anna. “Bentar dech, apakah kamu akan melakukannya?” Anis curiga. “Mungkin.....” jawaban Anna menggantung. “Wow, kamu nggak berbohong kan?” Anis kaget setengah mati. “Ya, lihat saja nanti!” jawab Anna sembari mengukir senyum. “Kamu serius?” Anis masih tidak percaya. “Mungkin aku dua rius!” Anna meledek. “Ah, kamu ini! Sudahlah, kita pulang yuk! Kamu sudah selesai kan?” ajak Anis. “Ya, aku sudah selesai” tukas Anna.
Saat Anna mau membayar, Anis merasa heran, “Hloh! Bukankah kamu bilang tadi di butik, kalau dompetmu ketinggalan di rumah?” “Oh nggak, kucari-cari ternyata ada di dalam mobilku” Anna kurang mantap dengan jawabannya, karena dia takut kebohongannya terbongkar. “Oh, syukurlah kalau begitu.” Tukas Anis.
“Mengapa kamu pulang terlambat, nak?” tanya ibu setelah Anna sampai di rumah. “A a aku habis les. Ibu tahu sendiri kan, kalau aku mau ujian?” Anna mencari-cari alasan. “Syukurlah kalau begitu” kata ibu itu disusul dengan batuk-batuk. Anna langsung menuju kamar tanpa menghiraukan batuk ibunya itu. Dia tidak mengetahui bahwa ibunya sedang sakit. Dan ibupun selalu saja menutupi rasa sakit yang dideritanya. Dia tidak mau kegiatan anaknya terganggu karena ia sakit. Dia hanya ingin yang terbaik untuk anaknya.
Beberapa minggu telah berlalu. Dalam minggu-minggu itu, Anna masih dengan sikapnya. Dia selalu saja meminta uang kepada ibunya untuk hal-hal yang tidak begitu penting. Dia juga masih meminta Anis untuk mencatatkan pelajarannya. Padahal, ujian telah berada di depan mata.
Minggu berikutnya, Anna mengikuti ujian nasional di sekolahnya. Yaitu SMAN Permata. Saat mengerjakan soal, dia tidak merasa kesulitan sedikitpun. “Ah, ini sih soal yang gampang” pikirnya. Sedangkan Anis merasa heran, karena sobatnya itu bisa mengerjakan dengan cepat dan tidak terlihat kesulitan sedikitpun.
“Aduh! Susah sekali soalnya” keluh Anis setelah keluar dari ruang ujian. Anna tidak merespon keluhan sahabatnya. “Na, apakah kamu nggak kesulitan ngerjain soal-soal tadi?” tanya Anis. “Nggak” tukas Anna. “Hebat banget kamu, Na! Padahal menurutku itu sulit sekali” tanggap Anis. “Thanks” jawab Anna singkat. “Wow, hebat sekali dia! Padahal dia nggak pernah mencatat, tapi kenapa dia nggak merasa kesulitan? Dulu waktu SMP dia memang pintar sih. Tapi semenjak SMA kurasa dia nggak pintar-pintar amat dech. Aneh!” kata batin Anis.
Masa ujian tinggal beberapa hari lagi. Anis masih heran dengan Anna yang selama ini selalu saja tidak merasa kesulitan dalam mengerjakan soal-soal ujian. “Na, kalau boleh tahu bagaimana resepnya biar nggak merasa kesulitan saat mengerjakan soal-soal ujian selain belajar?” tanya Anis setelah berhari-hari penasaran. Anna hanya tersenyum. “Mengapa kamu hanya tersenyum? Lucu ya?” kata Anis dengan sinis. Namun, Anna hanya bungkam. “Apakah kamu benar-benar melakukan hal yang pernah kamu bicarakan tempo hari padaku?” “Ya..... bisa jadi seperti itu” Anna santai. “Benarkah?” Anis langsung menepuk bahu Anna. Sedangkan dia hanya mengangguk. “Kamu benar-benar berani Cha!” “Waktu itu ku ajak kamu melakukannya juga, kamu tidak mau!” kata Anna. “Astaghfirullah, terang saja aku tidak mau! Selain aku tidak puas dengan hasilku nanti, aku juga takut akan dosa” Anis menerangkan. “Anis..... Anis..... bukankah kamu ini orang kaya? Seharusnya kamu berpikir licik sedikit. Dulu waktu kamu masih SMP, kamu juga melakukan seperti itu! Akupun seperti ini diajari olehmu! Zaman sekarang kalau nilai bisa kita beli, untuk apa susah payah belajar? Lagi pula kita ini masih remaja Nis! Umur kita masih panjang!” jawab Anna panjang lebar. “Sudahlah! Terserah kamu saja” Anis kesal. “Igh, dia tahu kalau aku melakukannya juga dulu?” kata Anis dalam hati. “Kalau aku melakukannya lagi, aku bisa lulus dengan mulus!” senyum Anis mulai terukir. Diapun telah berniat untuk menggunakan cara licik Anna. Namun, dia bertekat agar Anna tidak tahu rencananya. Agar dia tidak tertimpa malu.
Langganan:
Komentar (Atom)